Busana Muslim

Seragam Lebaran konveksi24jam

Jika kita tilik sejarah busana serba tertutup seperti busana muslim bukanlah busana yang cukup familiar di masyarakat Indonesia sebelumnya. Namun seiring pemahaman atas ajaran islam dan dipeluk oleh mayoritas masyarakat Indonesia busana muslim terus diterima secara luas secara bertahap.

Penggunaan busana muslim mulai banyak dikenakan setelah perkembangan hijab diterima. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya beberapa foto perempuan Indonesia di tahun 1940an yang banyak mengkombinasikan baju lengan panjang ataupun pendek dengan hijab yang sederhana, yakni hanya berfungsi sebagai penutup kepala atau disampirkan.

Perkembangan Fashion Muslim

BUSANA MUSLIM SUMBANGKAN NILAI TERBESAR DI INDUSTRI KREATIF

Pangsa pasar yang luas tak hanya di dalam negeri menjadi salah satu alasan industri busana muslim memiliki potensi yang cukup besar. Tak heran industri fashion menyumbang 50 persen dari pendapatan negara di bidang industri kreatif dan terdapat 2-3 persen pertumbuhan ekspor setiap tahunnya. Kini banyak pusat-pusat tekstil di Indonesia yang memberikan ruang cukup luas hanya untuk menjual ragam item busana muslim. Seperti misalnya di pasar tekstil Tanah Abang, Tamrin City yang berlokasi di Jakarta pusat, Pasar Baru, Bandung, Jawa Barat dan masih banyak lagi.

Pelanggan yang datang pun cukup beragam mulai dari masyarakat lokal, wisatawan hingga saudagar dari luar negeri berbondong-bondong berburu item busana muslim. Mereka biasanya berasal dari negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam hingga Filipina. Pilihannya yang cukup beragam menjadi alasan para pembeli tak bosan mendatangi pusat-pusat tekstil tersebut. Sementara itu, para pedagang di pusat tekstil juga memiliki jurus jitu untuk melayani para pelanggannya yang berasal dari berbagai wilayah tersebut. Mulai dari melayani dengan bahasa asing hingga kemudahan dalam bertransaksi.

Bukan satu atau dua helai. Para saudagar dari negeri tetangga biasanya membeli item fashion busana muslim dengan satuan kodi. Mereka bisa membeli puluhan kodi yang artinya bisa ratusan untuk satu jenis, seperti gamis ataupun hijab. Dilansir di Detik.com seorang saudagar dari Malaysia bahkan minimal menghabiskan dana Rp 30 juta sekali belanja di Pusat Tekstil Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Seiring kemajuan zaman dan kemudahan masuknya budaya dari luar, perkembangan busana muslim terus berevolusi. Perkembangan tersebut pun mendorong ragamnya fashion style busana muslim dari waktu ke waktu di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Dilansir dari laman website Kementerian Perindustrian busana muslim mulai marak di tanah air sejak tahun 1990an dan booming lima tahun berikutnya. Sejak saat itu makin banyak yang mulai melirik bergaya muslimah. Kisaran umurnya pun makin meluas. Pakaian tertutup ini tak hanya dikenakan oleh wanita dewasa namun meluas hingga pada remaja dan anak-anak.

 

Dalam perkembangannya kini busana muslim banyak menawarkan gaya berbusana banyak profesi. Mulai dengan gaya busana shar’i hingga gaya yang cukup trendi. Munculnya ragam gaya dalam modest wear tak terlepas dari banyaknya desainer busana muslim berbakat yang mulai bermunculan. Sehingga membuat busana hijab digunakan semua kalangan, baik bawah, menengah hingga kalangan atas.

Sebut saja Restu Anggraini, yang belum lama ini merilis koleksi dengan berkolaborasi bersama salah satu brand lokal ternama, (X)SML. Busana hijab dengan sentuhan modern tersebut siap menyasar para wanita modern tanah air dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri. Warna-warna kalem seperti earthy tone menjadi salah satu warna yang cukup mengikat para wanita hijaber’s masa kini.

Tak hanya itu, ragam seni budaya tanah air banyak menjadi inspirasi dalam mendesain juga diakui menjadikan busana muslim tanah air memiliki nilai tambah. Ragam motif batik dan tenun membuat desain karya desainer lokal cukup memiliki ciri khas, sehingga tak sulit menemukan pangsa pasar.

Potongan baju yang panjang dan sopan, membuat busana muslim juga memiliki pangsa pasar tak hanya mereka yang beragama islam. Ragam fashion trendi juga bisa dikenakan oleh siapa saja, khususnya untuk memenuhi kebutuhan berpakaian di acara-acara resmi yang akan lebih terlihat elegan dengan ragam potongan baju tertutup. Apalagi kini desainnya terus mengikuti perkembangan fashion dunia, dengan diadaptasikan melalui fashion item hijab, makin luas saja jangkauan pasar busana muslim tanah air.

KEUNTUNGAN GELIAT FASHION BUSANA MUSLIM

Geliat trend fashion busana muslim terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kondisi ini juga didukung oleh pertumbuhkan kelas menengah di Indonesia yang mencapai 7-8 persen setiap tahunnya. Semakin banyak kelas menengah yang tumbuh, maka semakin terbuka lebar industri fashion busana muslim berkembang di tanah air. Daya beli masyarakat yang terus meningkat menjadikan industri busana muslim cukup menjanjikan. Oleh karenanya perlu langkah jitu untuk menarik keuntungan dari geliat fashion tanah air.

Apalagi pengguna hijab semakin hari semakin banyak. Pada tahun 2012 saja data Kementerian Perindustrian setidaknya 20 juta orang di tanah air mengenakan busana muslim untuk aktivitas sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan para hijabers ini pun, pemerintah terus mendorong perkembangan industri fashion. Tak sia-sia setidaknya saat ini terdapat 30 persen dari 750 ribu pelaku industri kecil menengah bergerak di bidang industri fashion muslim.

Untuk memaksimalkan penyerapan potensi ekonomi di industri ini, pemerintah pun dituntut melakukan kontrol, terutama untuk pusat-pusat tekstil yang dihuni ragam barang tak hanya lokal, melainkan juga impor. Nilai ekonomi yang cukup tinggi akan terserap maksimal jika masyarakat disodorkan  barang-barang lokal. Seperti diketahui jutaan potong pakaian muslim yang ditawarkan di Tanah Abang misalnya, kini mulia didominasi oleh barang-barang impor pasca berlakuknya ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA).

Positifnya barang lokal dan impor hingga saat ini masih bersaing ketat.  Para pedagang di Tanah Abang mengaku lebih suka mengkombinasikan barang dagangannya antara produk impor dan lokal. Hal ini menjadi jurus jitu mereka untuk menarik pelanggannya. Meski hanya 40 persen, produk lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan produk yang banyak datang dari Bandung, Garut, Solo dan lain-lain masih memiliki harga lebih murah dibandingkan produk impor. Seperti misalnya kain bahan jilbab, yang dijual lebih murah dibandingkan kain yang diimpor dari Cina.

Konveksi24jam.com

Office:
Jl, Nusa Dua IV, No.34 B
Perumnas II Tangerang
Tlp. 021-55659253
08111101678

Workshop I (Sablon & Design Jahit/Sample, Pattern/Pola, Potong):
Kp. Bencongan, RT. 08/01, No.34
POS PDIP, Kec. Kelapa Dua
Tangerang, Banten.
Tlp. 021-55659253
HP. 08111101678 (Whatsapp)
Email: konveksi24jam@gmail.com

Workshop II (Workshop Jahit)
Kp. Pekayon
Jati , Mauk
Tangerang Banten

WILAYAH LAYANAN KONVEKSI24JAM

Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok,  Bekasi , Serang, Cilegon, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Papua, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sumatera Selatan, Sulawesi Barat, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Jambi, Sulawesi Selatan, Riau, Lampung , Kalimantan Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Banten, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Papua Barat, Sumatera Barat, Maluku, Aceh, Sulawesi Utara, Gorontalo