Mengapa Ada Minimum Order?

Contoh Baju Anak

Setiap pemilik brand baru sering mengalami kendala dengan jumlah minimum order yang diterapkan oleh Konveksi, disatu sisi Pemilik Brand masih coba-coba test kualitas dan test pasar, disisi lain bagi pengusaha Konveksi sulit beroperasi dengan minimum order yang sedikit tapi harga murah malah kadang – kadang minta cepet jadinya.

Sama halnya dengan percetakan, perhitungan minimum order menjadi pertimbangan dalam menghitung biaya produksi. karena ada fix cost yang tidak dapat dihindari pengusaha konveksi. Sehingga kebanyakan harga jual ditentukan oleh jumlah pesanan dan juga tingkat kesulitan model dan proses pengerjaan yang mempengaruhi waktu pengerjaan dari setiap produk yang dibuat.

Kebanyakan customer akan menganggap sombong bagi pengusaha konveksi yang tidak mau menerima pesanan kuantiti sedikit atau bahkan dianggap meremehkan pemilik brand baru yang hanya mampu memesan dalam jumlah sedikit. bahkan sampai membuat review jelek di google kepada konveksi yang tidak menerima order jumlah sedikit, padahal bukan itu alasannya, akan tetapi semata-mata karena ada pertimbangan biaya fix yang menyebabkan biaya produksi menjadi lebih mahal untuk kuantiti sedikit. itulah sebabnya mengapa harga tailor dan konveksi bahkan garment dengan produk yang sama namun harganya menjadi berbeda.

Sebagai logika sederhana, apabila customer memesan baju kemeja 12 pcs dengan harga 35 rb, 12x 35 rb = 420 rb, seandainya pengerjaan 7 hari, maka 420 rb/7 hari =60 rb/hari,.

Bayangkan 60 rb dibagi 4, kepada tukang potong, tukang jahit, tukang buang benang, tukang setrika uap, maka perhari setiap orang hanya menerima 15 rb rupiah. dengan standard biaya hidup saat ini saja satu orang paling tidak membutuhkan 100 rb perhari untuk makan 3x, sedangkan pemilik konveksi tidak menerima keuntungan, bahkan rugi karena harus menanggung biaya beli pulsa listrik dan benang.

Untuk standard hidup saat ini tentunya secara perhitungan cost harga tersebut sudah over budget dan tidak masuk perhitungan. akan masuk perhitungan ketika harga dinaikan menjadi diatas 150 rb (harga tailor), akan tetapi respon costumer selalu sama :

(1) berapa harga jualnya jika jasa jahitnya saja sudah 150 rb??

(2) bagaimana bisa bersaing dengan harga di tokopedia yang harga kemeja hanya 50 rb sudah jadi.

Jawabannya adalah : karena di tokopedia kebanyakan adalah produk import, atau produk sisa pabrik, atau produk massal yang sekali produksi bisa mencapai ribuan pcs. dimana perhitungan biaya fix / overhead cost sudah tertutupi , biayanya misal 35 rb x 1000 =35 jt, dengan lama pengerjaan hampir sama. tentunya sudah bisa menutupi biaya gaji dan fix cost yang dikeluarkan pengusaha konveksi.

Namun masih banyak juga Pemilik brand yang memesan dengan jumlah sedikit akan tetapi berani membayar dengan harga mahal karena mereka membuat produk custom dengan model berbeda tidak seperti produk-produk yang sudah ada dipasaran. sifatnya produk yang limited edition dan harganya tidak bersaing dipasaran. dengan pangsa pasar sendiri yang berani membayar dengan harga yang mahal, produk-produk ini disebut produk coutourier dengan kualitas yang sangat baik disesuaikan dengan harga.

biasanya produk seperti ini yang masih bisa berjalan di produksi di konveksi. akan tetapi biasanya produk seperti ini lebih lama pengerjaaannya karena sangat memperhatikan kerapihan dan kualitas dari produk. sehingga proses produksinya lebih teliti dan memakan waktu lebih lama dibanding produk jahit massal. tidak banyak konveksi yang berani menerima produk jenis seperti ini. karena pada dasarnya jika terlalu detail, maka waktu pengerjaan juga semakin lama,dan semakin lama pengerjaan ujung-ujungnya bisa rugi juga dari sisi penjahit dan pengusaha konveksi. sedangkan customer juga akan comlain jika pengerjaan semakin lama, disinilah akhirnya sering terjadi penjahit dianggap PHP karena selalu janji-janji , produknya gak jadi-jadi, sampai akhirnya ada istilah, “janji-janji tukang jahit”, padahal mungkin saja modelnya memang sulit dan jenis bahannya memang susah dijahit.

Sebagai kesimpulan bagi pemilik brand baru sebelumnya dapat mempertimbangkan hal ini, dan menghitung ulang, apabila ingin menjual produk yang sama di pasaran dengan jumlah sedikit disarankan untuk awal membeli dari produk yang di produksi massal sehingga bisa mendapatkan harga yang murah, kekurangannya harga jualnya menjadi sangat kompetitif dipasaran karena banyak juga orang yang menjual dengan model yang sama.

Namun apabila ingin memulai membuat produk yang custome atau berbeda dengan yang sudah ada dipasaran dengan brand sendiri, dapat menggunakan jasa konveksi tertentu/ garment. akan tetapi harus berani dengan modal untuk membuat dalam jumlah massal atau sesuai minimum order konveksi. tentunya memang untuk membuat usaha perlu modal yang besar sebagai pemain baru di industri fashion. dan tentu harus dipersiapkan dengan matang karena dalam sejarahnya brand-brand terkenal seperti zara, h&m, victoria secret, pada awalnya juga berinvestasi sangat besar diawal sebelum mereka mendidirkan brand/perusahaannya sampai mencapai kesuksesan seperti saat ini.